
Ginza-motor.com – Meski pemerintah bersama para produsen terus mendorong percepatan adopsi kendaraan listrik, kenyataannya minat masyarakat Indonesia terhadap motor listrik masih belum tumbuh signifikan. Sejumlah faktor, baik teknis maupun non-teknis, masih menjadi ganjalan utama bagi calon konsumen sebelum memutuskan beralih dari motor konvensional.
Sekretaris Jenderal Aismoli (Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia), Hanggoro Ananta, mengungkapkan bahwa kekhawatiran konsumen ini teridentifikasi dari berbagai riset dan diskusi yang dilakukan asosiasi. Hal tersebut ia sampaikan dalam forum diskusi yang digelar Komite Penghapusan Bensin Bertimbel (KPBB) di Jakarta, Selasa (23/12/2025).
“Dari sisi konsumen, kami mencoba memahami poin-poin yang mereka hadapi. Hasilnya menunjukkan ada beberapa kekhawatiran utama yang masih menjadi pertimbangan besar,” ujar Hanggoro.

Jarak Tempuh Jadi Isu Utama
Berdasarkan riset salah satu anggota Aismoli yang dilakukan sejak 2021, jarak tempuh menjadi kekhawatiran terbesar masyarakat. Banyak konsumen menilai kemampuan jelajah motor listrik saat ini belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan mobilitas harian, terutama untuk perjalanan jarak jauh atau penggunaan intensif.
Di sisi lain, ketersediaan infrastruktur pengisian daya juga dinilai masih belum merata. Kondisi ini membuat calon pengguna khawatir kehabisan daya di tengah perjalanan, khususnya di luar kota-kota besar.

Harga dan Daya Tahan Baterai Masih Dipertanyakan
Isu lain yang tak kalah sensitif adalah harga baterai. Konsumen menilai biaya penggantian baterai berpotensi tidak sebanding dengan harga motor secara keseluruhan. Kekhawatiran ini diperparah dengan persepsi soal keandalan motor listrik, terutama saat digunakan dalam kondisi ekstrem.
“Masih banyak masyarakat yang menganggap motor listrik rawan rusak jika terkena banjir, hujan deras, atau saat dicuci,” jelas Hanggoro.

Bengkel Terbatas dan Edukasi Masih Kurang
Minimnya jaringan bengkel dan diler di luar kota besar turut memperkuat keraguan publik. Selain itu, ulasan negatif di media sosial serta beberapa kasus insiden pengisian daya ikut memengaruhi persepsi masyarakat.
Menurut Hanggoro, kondisi ini menegaskan pentingnya edukasi yang tepat, khususnya terkait prosedur pengisian daya yang aman serta standar keselamatan produk.
“Ini menunjukkan bahwa edukasi soal mekanisme charging dan keamanan produk masih sangat dibutuhkan,” tegasnya.

Fokus Infrastruktur, Bukan Sekadar Insentif
Ke depan, Aismoli mendorong penguatan infrastruktur sebagai prioritas utama, bukan hanya mengandalkan insentif pembelian. Kolaborasi antara PLN dan produsen motor listrik dinilai krusial untuk memperluas jaringan pengisian daya dan meningkatkan rasa aman konsumen.
Selain itu, asosiasi juga mendorong penerapan standar garansi minimum, pengembangan skema baterai sewa, serta lokalisasi rantai pasok agar harga motor listrik bisa semakin kompetitif di pasar domestik.
Menurut Hanggoro, berbagai langkah tersebut merupakan pekerjaan rumah besar bagi industri agar motor listrik tidak hanya menjadi tren, tetapi benar-benar mampu menjawab kebutuhan dan ekspektasi masyarakat Indonesia.